SIANG itu, Minggu (23/3), waktu di tangan menunjukkan pukul 11.10, kami telah tiba di Panti Werdha Marie Joseph, Jl Budi
Utomo, Pontianak. Kami datang berdelapan. Selain aku, ada Aben, Achong, Billy,
Eva, Hongling, Naomi, dan Rita. Rita yang menyetir.
Kedatangan kami langsung disambut Suster Imelda,
pengurus panti. “Bagaimana suster, barang-barang langsung diturunkan,” tanyaku.
“Boleh,” jawab suster yang sebelumnya mengatakan nanti saja turunkan barangnya,
ternyata, sudah ada rombonga lain yang tiba lebih dulu.
Kami bersama-sama menurunkan barang-barang kebutuhan
sehari-hari dan pakaian bekas layak pakai untuk panti. Dari kendaraan, barang
diturunkan satu per satu, pertama disimpan sementara di teras depan, sebelumnya
dibawa masuk ke dalam ruangan.
Kami diajak Suster Imelda melihat langsung kondisi
para akong dan ama dalam panti. Ada sekitar 30 orang jompo di sana. Kami pun
bertemu dengan anak-anak yang hidup dipanti, sekitar 11 orang mereka. Di ruangan
para akong, kami tidak lama. Di ruangan para ama juga awalnya tidak lama. Kami juga
melihat kondisi capel di sana.
Para gadis terlihat sangat akrab dengan anak-anak,
bahkan Rita tak sungkan ikut lari-larian bersama mereka. Untuk anak-anak kami
juga membagikan langsung susu coklat cair kotak. Saat disodorkan susu kotak,
Rita juga menerimanya. Maklum, dia gemar coklat.
“Kamu kelas berapa? Papa mama sekarang di mana?” tanya
Rita pada anak-anak, saat mereka duduk pada salah satu kursi panjang. Anak-anak
sepertinya tidak menjawab dengan jelas.
Cukup puas bermain dengan anak-anak. Kami melihat
kondisi si kecil, bayi berusia dua tahun yang baru saja sembuh dari sakit,
tetap masih dalam tahap pemulihan. Bayi mungil itu tertidur pulas di ayunan. Tak
kuasa kami membangunkannya, dia lelap sekali, wajahnya terlihat damai.
Para gadis hanya bisa bertanya kepada salah satu
pengurus panti, perihal si bayi. Kurang lebih 5 menit percakapan itu
berlangsung.
Salah satu ama, tak jauh dari si bayi yang awalnya
sedang tidur, terbangun merasakan keramaian. Naomi coba menyambangi ama
tersebut. Si ama mulai bercerita tentang dirinya kepada Naomi. Saat itu, Aben,
Billy, Eva, Hongling, dan Rita ikut menyambangi si ama.
Aku tak begitu paham apa yang diceritakan ama pada
teman-teman. Soalnya, ama bercerita dalam bahasa tio ciu, aku hanya mengerti beberapa
kata. Tapi dari perkataan kakak pengurus panti, aku sedikit mengerti. Ama sudah
cukup lama berada di panti, mirisnya, sampai kami berkunjung, tak ada satupun
keluarga, terutama anak-anaknya yang berkunjung. Padahal mereka tinggal di Pontianak
juga.
Kondisi miris ama membuat teman-teman, terutama para
gadis tak kuasa menahan perasaannya. Kurang lebih 15 menit, si ama bercerita
tentang dirinya. Saat kami akan berlalu, si ama terkesan tak kuasa melepas
kami. Ia menggenggam tangan naomi cukup erat. Sepertinya, dia masih membutuhkan
teman untuk sekedar bercakap-cakap.
“Ama kami pulang dulu,” ucap Naomi, ku pikir ini arti
ucapan Naomi, saat pamit kepada ama.
Saat kami di dalam, Acong tengah menemani dua ama bercakap-cakap
di selasar menuju ruang tidur para ama. Aku tak mendengarkan percakapannya,
tapi ku pikir tak akan jauh berbeda dengan cerita ama kepada teman-teman di
dalam ruangan.
Aku jadi teringat perkataan seorang teman, beberapa
saat sebelumnya. Kami bertemu di panti itu, ternyata mereka rombongan sebelum
kami. Namanya, Pak Akiun. “Kita sumbang kebutuhan sehari-hari, seusai keperluan
panti sudah bagus. Tapi yang jauh lebih dibutuhkan para orangtua di sini, teman
untuk bercakap-cakap,” katanya.
Pak Akiun benar, selain materi, dukungan moril sangat
dibutuhkan para akong dan ama, serta anak-anak di panti.
Sebelum kami pulang, kami menyempatkan diri foto
bersama anak-anak panti di ruangan tengah dalam. Aku harus mengunakan timer
shot, agar bisa ikut masuk dalam foto itu. Kebersamaan kami dengan mereka
memang hanya sekitar satu jam. Tapi satu jam itu menjadi satu jam yang tak
terlupakan. (madefrans)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar