Minggu, 09 Agustus 2009

Suhu 850 Derajat Celcius Bakar Jenazah

Terkadang kesan kejam terlihat dari proses kremasi jenazah. Terlebih jika dipandang dari sisi membakar manusia yang harusnya dihormati setelah meninggal. Meskipun begitu, kultur dan penghematan lahan perkuburan menjadi alasan tepat dilakukan kremasi. Lalu bagaimana pula perilaku kremasi di Borneo.

KALBAR hanya memiliki satu rumah krematorium (we tjeng tio) di Jalan Adi Sucipto Km 8,5 Sungai Raya. Pembangunannya menghabiskan dana sekitar Rp500 juta, Rp400 jutanya digunakan untuk membeli mesin kremasi dari Jakarta. Diresmikan pada 26 Juni 2005, crematorium pertama kali digunakan pada 15 Juli 2005.

Awalnya, tidak banyak jenazah dikremasi di sana, paling banyak dua bulan sekali. Rata-rata keluarga duka masih merasa aneh dan takut dengan krematorium. Sebagian orang berpikir, masa sudah meninggal masih harus dibakar. Walaupun jika dipikir secara logika, kremasi dan penguburan jenazah tidak jauh berbeda. Hanya proses perusakan tubuh jenazah yang berbeda.

“Tujuan krematorium ini hanya satu, menghemat lahan perkuburan, cukup menanam abu jenazah. Secara tidak langsung kami membantu pemerintah. Lahan perkuburan pastinya semakin sempit, terimbas pembangunan,” ujar Wakil Ketua Pimpinan Krematorium Limas Santoso (Lim Peng Thay) belum lama ini.

Berjalan lebih dari empat tahun, krematorium beroperasi 7-10 kali dalam satu bulan. Total kremasi yang dilakukan mencapai 295 jenazah. Walau secara definitif krematorium milik Yayasan Halim, jenazah dari yayasan marga lain dapat dikremasi di sana. Pihak yayasan tidak setuju tempat itu dinamakan Krematorium Halim, dana pembangunan juga bersumber dari yayasan lain.

Krematorium tidak untuk semua agama, selama ini terbanyak dari agama Budha, Kong Hu Cu, Katolik dan Kristen. Kremasi lebih banyak dilakukan warga Tionghoa, karena notaben agama-agama itu dipeluk warga Tionghoa. Proses kremasi disesuaikan dengan agama masing-masing kelurga duka. Kremasi pun hanya dilakukan jika ada permintaan dari keluarga duka.

Satu jenazah memerlukan dana Rp2,5 juta untuk kremasi. Jenazah biasanya disembayangkan terlebih dahulu di samping krematorium. Usai itu langsung dimasukkan ke dalam krematorium. Ukuran keranda pun harus sesuai standar internasional, tinggi 70 cm dan lebar 62 cm, sementara panjang disesuaikan dengan badan jenazah.

Pembakaran memakan waktu 2-3 jam, proses pendinginan yang lama. Jenazah masuk krematorium pukul 10.00 pagi, pukul 05.00 sore baru dapat diambil abunya. Panas di dalamnya mencapai 950 derajat celcius, tapi hanya 850 derajat yang digunakan.

Menurut salah satu penjaga krematorium Ameng (54), walaupun proses pembakaran selesai, tulang jenazah tetap harus dihancurkan lagi. Kreamatorium memiliki dua kipas, satu mendorong asap keluar, satunya untuk menyamburkan api. Tiap beroperasi diperlukan 120 liter solar, termasuk untuk genset ketika lampu padam.

Mesin harus tetap hidup selama proses pembakaran. Karenanya harus tetap dijaga, tiga orang bergantian menjaganya, termasuk mekanik untuk perawatan. (*)

7 komentar:

Lia Chan mengatakan...

Anda benar. Kremasi atau makam, hanya beda diprosesnya saja. Abu juga tidak perlu dikubur/dibuang ke laut kok. Dibawa ke rumah juga oke. Biar bisa dikenang. hehhehee.

Mdfrans mengatakan...

hehehe... betul2... cuma prosesi kremasi jenazah masih belum familiar...

Andre mengatakan...

Kremasi itu semakin lebih populer dari pada pemakaman di kalangan Tionghoa.Toh, jenazah juga akhirnya akan membusuk dan menjadi debu.Setelah dikremasi kebanyakan dilabuh di laut atau sungai. Keluarga kalau mau memperingati (Cheng Benga)juga lebih praktis bisa ke pantai /sungai mana aja.Keluarga kami udah tdk tinggal di Indonesia lagi. Sehingga setahun sekali saya pergi ke pantai dan tabur bunga.

Andre mengatakan...

Kremasi itu semakin lebih populer dari pada pemakaman di kalangan Tionghoa.Toh, jenazah juga akhirnya akan membusuk dan menjadi debu.Setelah dikremasi kebanyakan dilabuh di laut atau sungai. Keluarga kalau mau memperingati (Cheng Benga)juga lebih praktis bisa ke pantai /sungai mana aja.Keluarga kami udah tdk tinggal di Indonesia lagi. Sehingga setahun sekali saya pergi ke pantai dan tabur bunga.

Andre mengatakan...

Kremasi itu semakin lebih populer dari pada pemakaman di kalangan Tionghoa.Toh, jenazah juga akhirnya akan membusuk dan menjadi debu.Setelah dikremasi kebanyakan dilabuh di laut atau sungai. Keluarga kalau mau memperingati (Cheng Benga)juga lebih praktis bisa ke pantai /sungai mana aja.Keluarga kami udah tdk tinggal di Indonesia lagi. Sehingga setahun sekali saya pergi ke pantai dan tabur bunga.

Seffin Hiedayatdinata mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Seffin Hiedayatdinata mengatakan...

Jasad jenazah itu terlihat kasat mata seperti mati, padahal hakikatnya masih hidup. Manusia yang mati jasadnya, sedangkan ruhnya tidak. Dalam Islam saat jenazah dimandikan harus dengan lembut jangan keras keras saat memandikan, jangan pakai sikat juga sebab ruh itu masih bisa merasakan sakit. Nah disikat saja bisa terasa sakit, apalagi dibakar Masya Allah. Adam itu berasal dari tanah, bukan debu. Dikubur ya nantinya jadi tanah, sedangkan dibakar jadi abu. Abu dan tanah itu beda. Bukankah 'dari tanah akan kembali ke tanah?' Lagi pula kremasi adalah simbol pembakaran manusia seperti halnya di neraka. Bayangkan jika jasadmu nanti dibakar sedangkan hakikatnya engkau masih bisa merasakan sakit, betapa menderitanya dirimu.Dikubur adalah proses alami, jenazah pertama di dunia saja (anak Nabi Adam) dikubur bukan dibakar. Lalu pembakaran itu diajarkan siapa kalau bukan dari bisikan Syetan? Renungkan bukan didebatkan.