MADE FRANS
Menteri LH dan jajarannya, Pemkab Kayong Utara, Pemprov Kalbar, Perwakilan Untan, FFI, dan USAID IFACS, serta pimpinan dan karyawan PT PAS – PT CUS berfoto bersama dalam areal konservasi PT CUS.
Aksi Nyata Perusahaan Menjaga Alam Kalimantan Barat
PONTIANAK POST (14/4/2014) - PT CIPTA Usaha Sejati (PT CUS), anak perusahaan PT Pasifik
Agro Sentosa (PT PAS) telah memulai investasinya di Kabupaten Kayong Utara,
Provinsi Kalimantan Barat sejak 2005. Perusahaan perkebunan kelapa sawit ini
memulai penanaman perdana pada 2007. Hingga saat ini, selama menjalankan
usahanya, PT CUS menerapkan pembangunan berkelanjutan dengan menerapkan konsep
keseimbangan antara lingkungan, sosial, dan ekonomi atau 3P (Planet, People, Profit).
Konsep yang diterapkan PT CUS terbilang unik, bagaimana
tidak dari total luas izinnya, perusahaan menyisihkan sekitar 10 ribu hektar
untuk areal konservasi. Komitmen ini tidak hanya di atas kertas, PT CUS bahkan
menggandeng FFI, Daemeter Consultant, USAID IFACS, Untan, dan lembaga lain
untuk mengelola areal konservasi.
Usaha ini berbuah manis. PT CUS menjadi satu-satunya
perusahaan perkebunan sawit di Kalbar yang menerima penghargaan ‘Pengelola
Sumberdaya Alam Lestari’ dari Pemerintah Provinsi Kalbar, 13 Juni 2013.
Penghargaan ini diserahkan langsung Gubernur Kalbar Drs Cornelis MH dan
disaksikan Menteri Lingkungan Hidup RI Prof Dr Balthasar Kambuaya MBA.
Induk perusahaan PT CUS, PT PAS juga satu-satunya
perusahaan perkebunan kelapa sawit yang menjadi perwakilan Indonesia dalam United Nation
Frameworks Convention on Climate Change Conference of the
Parties (UNFCC COP 19) di Warsawa, Polandia, 11-22 November 2013. UNFCCC atau Konvensi Kerangka-kerja PBB tentang Perubahan Iklim adalah
perjanjian lingkungan internasional yang dihasilkan Konferensi PBB tentang
Lingkungan dan Pembangunan (UNCED) yang secara informal dikenal sebagai
KTT-Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, Juni 1992. Dalam forum internasional yang dihadiri para pemegang
keputusan dan pengambil kebijakan lingkungan dan perubahan iklim dari semua
negara anggota PBB itu, PT PAS diminta
berbicara tentang kawasan bernilai konservasi tinggi yang merupakan inisiatif dari perkebunan sawit.
Penghargaan dan prestasi tersebut menarik perhatian
Menteri LH, ia ingin meninjau sendiri, seperti apa sebenarnya pengelolaan areal
konservasi yang sudah dilakukan PT CUS. Apakah pengelolaannya sesuai fakta
lapangan atau hanya di atas kertas. Jumat, 11 April 2014, Menteri LH membawa
serta jajarannya meninjau
langsung areal konservasi PT CUS, baik dari udara maupun darat. Wakil Bupati Kayong Utara Idrus, FFI,
USAID IFACS, Kadis Perkebunan Provinsi Kalbar Budi Setiawan, Kepala BLHD
Kalbar, Gusti Hardiansyah Dekan Fakultas Kehutanan Untan turut mendampingi
Menteri LH dalam peninjauan.
“Impressive sekali. Apresiasi, salut untuk perusahaan ini.
Kami sudah lihat dari udara, kebun mana, hutan mana. Manajemennya bagus sekali.
Ada hutan lindungnya. Ini sangat baik, kebun ini begitu perhatikan
lingkungannya,” ujar Balthasar kepada Pontianak Post.
Ia pun mengapresiasi, upaya perusahaan menyisakan hampir
10 ribu hektar dari lahannya untuk kepentingan konservasi. “Image orang. Di
mana ada kebun kelapa sawit, di situ lingkungan rusak. Tapi yang terjadi di
sini lain, terbalik. Ada kebun kelapa sawitnya, konservasi hutannya sangat
baik. Kami mau bilang tadi, ini kebun kelapa sawit atau hutan konservasi,”
katanya.
Dalam kunjungannya itu, Menteri LH meninjau areal tanam
serentak, kandang rusa, kandang kuda, dan habitat hewan-hewan endemik Kalbar
yang masih dijaga dalam areal konservasi. Menteri LH pun menyempatkan diri
menanam satu pohon dan membubuhkan tandatangannya di atas prasasti. “Terima
kasih komitmen terhadap lingkungan hidup kita, agar tetap dijaga,
dipertahankan, dan dirawat,” pesan Balthasar melalui tulisannya di atas
prasasti.
Terpisah, Hasjim Oemar, Direktur Utama PT PAS menyampaikan, apa yang
dikerjakan perusahaan selama ini mendapat apresiasi pemerintah. Peninjauan yang
dilakukan Menteri LH dan jajarannya menjadi bukti komitmen perusahaan membangun
perkebunan yangberkelanjutan, go sustainable forever.
“Ini bukti, kami komit membangun kebun
sawit bukan semata-mata demi mencari keuntungan. Lingkungan dan masyarakat juga
kami perhatikan sebagai prioritas. Kami komit menjaga keseimbangan antara Planet,
People, dan Profit,” ujarnya.

PT CUS
Menteri LH meninjau pabrik kelapa sawit PT CUS yang menerapkan teknologi modern zero waste.
Pabrik Zero Waste
Sebelum menginjakkan kaki dalam areal konservasi PT CUS,
Menteri LH Balthasar Kambuaya dan rombongan terlebih dulu meninjau pabrik
kepala sawit perusahaan. “Pabriknya modern sekali. Polusi udara tidak ada.
Pekerja dan kontrol produksinya baik. Pengelolaan limbah juga baik sekali,”
ujar Balthasar.
Baginya, secara keseluruhan manajemen perusahaan telah
tertata dengan baik. Lingkungan pun dijaga, polusi udara dikontrol menerapkan
zero waste. “Tidak ada limbah terbuang, dipakai kembali untuk bahan bakar,”
katanya.
Ia menilai, upaya yang dilakukan PT CUS telah mem-back up
pemerintah di mata dunia. Kebun sawit memiliki image sebagai perusak lingkungan
bagi masyarakat luar negeri, terutama Eropa dan Amerika. “Ini bukti, kebun
jalan, lingkungan tetap terjaga. Kalau ada kunjungan dari UNSCF, kita bawa mereka ke sini. Tunjukkan Indonesia bisa
berbuat juga, tidak seperti apa yang mereka bicarakan,” jelasnya.

Tepat Raih Penghargaan
Penghargaan ‘Pengelola Sumberdaya Alam Lestari’ tepat
diterima PT CUS. “Waktu penghargaan diberikan saya juga ada. Ini pembuktian,
tidak hanya di atas kertas. Apa yang mereka lakukan benar,” tegas Menteri LH
Balthasar Kambuaya.
Kementerian Lingkungan Hidup pun telah memberikan penghargaan
‘Proper Biru’ kepada CUS. Ia berharap, penghargaannya bisa naik ke ‘Proper
Hijau’ dan ‘Proper Emas’. “Saya optimis perusahaan ini bisa capai itu, terutama
Proper Hijau,” katanya.
Ia menekankan, tidak ada yang meragukan PT CUS berhak
mendapat peringkat itu. “Mereka sangat konsen terhadap lingkungan. Bisnis
perkebunan jalan, lingkungan dijaga dengan baik,” tambahnya.
CUS Menjadi Contoh
Prof Dr Balthasar Kambuaya MBA meminta pola yang
diterapkan PT CUS juga dikembangkan perusahaan kelapa sawit lainnya, terutama
di Kalbar. “CUS jadi contoh perusahaan lain. Jangan habiskan lahan untuk
bisnis, sisakan lahan untuk konservasi, tidak akan rugi,” ujarnya.
Menteri LH dan rombongan tidak hanya berkeliling meninjau
areal konservasi CUS. Mulai dari lokasi penanaman serentak sejak 2007 hingga kini, penangkaran rusa, kandang kuda, sawah, dan kolam ikan. Menteri LH dan rombongan pun
menikmati suasana santai di saung dalam areal konservasi.
“Kalau kita dulu dalam kebun sawit tidak bisa duduk
seperti ini. Kami himbau perusahaan lain sisakan lahan sedikit untuk
konservasi. Selamat untuk PT CUS. Terima kasih untuk kepedulian lingkungan.
Jaga, pelihara, dan tingkatkan lagi,” katanya.
Danau Konservasi
Dalam kunjungannya, Menteri LH dan rombongan menyempatkan
diri melihat kondisi danau konservasi PT CUS. “Suasana ini, surga dunia.
Tempatnya begitu indah. Betul-betul hebat perusahaan ini,” ujar Menteri LH saat
bersantai dalam gubuk terapung di tepi danau konservasi.
Di dalam danau terdapat berbagai jenis ikan lokal yang
dimasukkan oleh perusahaan. Danau dijaga kelestariannya, ikan-ikan di dalamnya
dilarang untuk ditangkap atau dipancing. “Danau ini khusus ikan endemik. Ada
kolam ikan juga di sini. Ikannya dipelihara tidak boleh dimakan. Hebat,”
katanya.
Ia menegaskan, Pemerintah Indonesia memastikan, semua
investasi dan bisnis di negara ini berjalan dan berkembang. “Apa saja,
pertambangan atau perkebunan. Bagaimana bisnis berjalan tapi lingkungan harus
tetap dipelihara dan terjaga,” katanya.

Jangan Ganggu Konservasi
Menteri LH Balthasar Kambuaya menegaskan, areal konservasi
bukan hutan terlantar. Areal konservasi hutan dalam perkebunan sawit tidak
boleh diberikan izin usaha lain. Kekhawatiran ini terkait belum adanya aturan
jelas dan mengikat tentang perizinan areal konservasi.
“Dengar cerita ini, repot juga. Saya mau bicarakan dengan
Menteri Kehutanan dan Menteri Pertanian, areal perkebunan yang dicanangkan
untuk konservasi jangan diganggu,” tegasnya lagi. Kementerian LH terus
mendorong aturan areal konservasi. “Hutan konservasi dalam kebun untuk
kepentingan lingkungan dan bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah selalu menekankan, investasi
harus menerapkan triple P, yaitu Profit, People, Planet atau bisa disebut
triple bottom line. “Tadi saya ketemu masyarakat asli yang sudah berhasil di
area perusahaan ini. Profit memang nomor satu, tapi keseimbangan People dan
Planet harus tetap dijaga,” pungkasnya.
Pembangunan Berkelanjutan
Dalam menjalankan usahanya, terutama terkait isu
lingkungan, PT CUS bekerjasama dengan beberapa pihak, salah satunya USAID
Indonesia Forest and Climate Support (IFACS). Neville Kemp, Deputy Chief of
Party USAID IFACS menyatakan, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan PT CUS
dalam satu tahun terakhir.
USAID IFACS bentuk kerja sama strategis antara Amerika
Serikat dan Indonesia yang ditujukan untuk mengurangi emisi, terutama dari deforestasi
dan degradasi. “Kami jalin kerja sama dengan PT CUS, karena perusahaan ini
punya niat untuk melestarikan alam dan mengurangi deforestasi yang disebabkan
emisi gas rumah kaca,” ujar Neville, disela-sela peninjauan oleh Menteri LH dan
jajarannya.
Bentuknya nyata kerja sama tersebut dalam pelatihan dan
monitoring. Mereka membangun conservation management dan monitoring plan (CMMP)
untuk daerah-daerah yang memiliki high conservation value agar lestari untuk
masa depan. “Ini menyambung kerja dari FFI dan Daemeter yang tetapkan ada
pelatihan dan monitoring. Kami harap staf PT CUS bisa gabung, sehingga tidak
tergantung dengan orang luar untuk monitoring,” katanya.
Bentuk kerja sama lain dalam social impact assesment di
bawah MoU PT PAS (induk perusahaan PT CUS) dan IFACS. “Kami
menilai bagus, peraturan PT CUS jelas sudah lebih dari yang diharuskan. Selalu lebih banyak, lebih baik.
Salah satu perusahaan yang betul-betul memiliki policy dari high level hingga
ke bawah menerapkan keseimbangan Planet, Profit, People,” jelasnya.
Menurutnya, melihat semua aspek yang diperlukan untuk
mencapai pembangunan berkelanjutan, tiga pilar tersebut tidak bisa dipisahkan.
“Utamakan salah satu, abaikan dua yang lain, tidak akan capai sustainablity
untuk jangka panjang,” katanya.
Neville menambahkan, PT CUS satu dari 13 perusahaan yang
kerja sama dengan proyek USAID IFACS yang betul-betul memiliki sustainability
jangka panjang. Ini demi mengurangi deforestasi dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. “Tetapkan kebijakan yang baik, terutama bagi proyek kita mengurangi
emisi gas rumah kaca,” pungkasnya. (*)
Narasi: Made Frans
Foto-foto: Made dan PT CUS


