Minggu, 09 Agustus 2009

Seni Bukan Profesi

Seni harusnya dapat menjadi identitas suatu daerah. Beberapa kota di Indonesia dan negara lain telah merealisasikannya. Seni sangat dihargai. Tapi sayang, kurangnya apresiasi seni di sini membuat pelaku seni kadang termajinalkan. Mereka hanya dapat menjalankan pameran tahunan untuk mempertahankan apresiasi seni pribadi sendiri.

Kesekian kalinya selasar Museum Kalbar menjadi tempat apresiasi para seniman daerah ini. 117 karya 64 seniman ditampilkan dalam pameran seni visual Yayasan Bina Insan dan Budaya Rakyat (Bidar). Karya-karya yang datang dari Pontianak, Sambas, Jakarta dan Magelang itu berupa lukisan, foto, karikatur, sketsa, serta karya visual lainnya.

Menurut Koordinator Pameran M Zeinur R, ada pula karya hasil goresan anak SD-SMA. Bahkan malam ini, bakal diputar film indie karya anak lokal. Seniman luar Kalbar juga menyampaikan apresiasinya dalam pameran karena telah dilakukan audiensi sebulan sebelumnya.

Pameran itu masih dirasakan kurang oleh Ketua Yayasan Bidar Indra Ae’. Kegiatan itu memang telah menjadi agenda tahunan Bidar. Tahun lalu mereka fakum untuk melihat ada komunitas lain melakukan hal lebih baik dari mereka, baik dalam kemasan dan apresiasinya.

Hal paling disayangkan dari kegiatan ini, kurangnya apresiasi pihak pemerintah akan seni. Pemeran seni masih dipandang sebelah mata. Tidak ada yang luar biasa dari seni dilihat mereka. “Mungkin saja bagi mereka, perputaran uang di seni lama,” katanya.

Kesenian sebenarnya dapat menjadi pilar terbentuknya kultur. Tapi sayang, Pontianak tidak memiliki tempat khusus menampung karya senimannya. Malah tempat representatif mereka telah diambil alih pihak lain.

Daerah lain di luar Kalbar telah menjadikan kesenian sebagai ujung tombak. Karya-karya seniman dapat menciptakan identitas daerah. Itu tampak dalam bentuk bangunannya. Kurangnya apresiasi seni di Pontianak membuat pelaku seni capek. Seni yang harusnya dapat menjadi profesi malah sering menjadi selingan.

Budayawan A Halim R yang ikut melihat pameran berkata, karya di sana sangat bermutu dari anak bangsa. Sepintas dilihatnya refleksi human interest, pelestarian alam dan mungkin religi. Itu cukup lengkap untuk sebuah pameran. Pantas disaksikan generasi manapun. Refleksi Indonesia untuk generasi.

Prestasi anak lokal pun menjadi kebanggaan. Pusat seni yang selama ditakuti, seperti Bali, Jogja dan Solo telah dikalahkan. Sementara itu, refleksi seni secara terbatas dilihatnya sudah terdapat dalam kehidupan masyarakat lokal. Peran seni dalam kehidupan sehari-hari atau seni public diperlukan dalam masyarakat Pontianak.

Tidak ada komentar: